PENDEKATAN KEWIRAUSAHAAN
SEBAGAI UPAYA MEMAJUKAN KOPERASI
By. SEKRETARIS DEKOPINWIL DKI JAKARTA
PENDAHULUAN
DR. Moh. Hatta menyatakan bahwa “Bangsa Indonesia akan dapat mengangkat dirinya ke luar dari lumpur, tekanan, dan hisapan, apabila ekonomi rakyat disusun sebagai usaha bersama berdasarkan Koperasi”. Dalam pernyataan ini jelas terkandung makna bahwa upaya untuk membangun dan mengembangkan ekonomi rakyat dalam wadah Koperasi yang rasional dan ekonomis merupakan suatu keharusan.
Sebagai bagian integral dari tata perekonomian nasional, Koperasi memiliki kedudukan dan peran yang sangat strategis dalam menumbuhkembangkan potensi ekonomi rakyat. Oleh karena itu, Koperasi secara bersama dan berdampingan dengan pelaku usaha lain harus mampu tumbuh menjadi badan usaha dan sekaligus sebagai gerakan dan penggalang ekonomi rakyat serta memiliki jaringan usaha dan daya saing yang tangguh guna mengantisipasi berbagai peluang dan tantangan pada masa yang akan datang. Disamping itu, Koperasi harus mampu melakukan langkah-langkah ke depan secara terarah untuk dapat melestarikan identitas Koperasi dan dapat mempertahankan jatidirinya agar tidak terpeleset ke luar dari jatidiri Koperasi walaupun harus melakukan kegiatan bisnis sebagaimana layaknya yang dilakukan pelaku ekonomi lainnya.
Implementasi bisnis pada Koperasi dikelola dalam unit usaha (business unit). Unit usaha ini dipimpin oleh pengelola bisnis yang disebut secara beraneka ragam, seperti : manajer, kepala unit, bahkan tak jarang dirangkap oleh pengurus. Unit usaha Koperasi keberadaannya disahkan/dicantumkan dalam Anggaran Dasar (AD) Koperasi. Ada Koperasi yang memiliki satu (tunggal) unit usaha dan sebaliknya ada Koperasi yang memiliki banyak (multi) unit usaha. Dalam konteks tunggal/multi usaha inilah kompleksitas persoalan bisnis Koperasi muncul. Ada Koperasi yang gagal dan sebaliknya ada Koperasi yang berhasil mengelola usaha. Apa sebabnya ?
PROGRAM TITIPAN vs PELUANG PASAR
Organisasi Koperasi merupakan lembaga yang bergerak dalam bidang bisnis (ekonomi) yang pembentukannya secara esensi didasarkan pada self help (menolong diri sendiri) melalui kesamaan (solidaritas), effort (usaha) dan individualitas.
Usaha Koperasi seharusnya dibangun dan dikembangkan atas kebutuhan dan peluang pasar (anggota dan non anggota). Pada masa lalu tak jarang Koperasi ditumbuhkan dengan tanpa dasar analisis kebutuhan itu. Koperasi ditumbuhkan dari atas (top down), didirikan untuk menjalankan program yang telah terstruktur, dititipi untuk menjalankan usaha (business) yang resikonya tak kalah besar, seperti program pangan, distribusi pangan, bahan/sarana produksi dan sebagainya. Tipe Koperasi ini misalnya : KUD (di desa), KSU (di kota) dan beberapa jenis Koperasi lainnya.
KUD dan KSU, berkembang sebagai Koperasi multi usaha, dengan menjalankan usaha yang kental titipan. Koperasi tipe ini nyaris tanpa tantangan (kecuali soal-soal rutinitas), dikelola secara rutin. Dengan demikian tipe Koperasi top down tidak merangsang tumbuhnya wirakoperasi, kecuali melahirkan manajer rutin di Koperasi. Saat ini, dimana dominasi pemerintah sangat berkurang, maka konsep pengembangan usaha Koperasi semestinya berubah dari top down, menjadi tumbuh atas dasar needs anggota dan peluang pasar. Ini artinya menumbuhkan Koperasi atas dasar arus bawah bottom up-grass root. Konsekuensinya apa ? dari sisi sumber daya manusia, maka (1) Koperasi akan sangat dekat dengan anggota, memerlukan dan diperlukan anggota, (2) Koperasi tak cukup lagi dipimpin oleh para manajer rutin, tetapi menuntut adanya peran wirakoperasi.
MANAJER (Rutin) vs WIRAKOPERASI
Koperasi yang dibangun dari bawah (bottom up) secara signifikan merangsang tumbuhnya inovasi, yang berarti pula berkembangnya kewirakoperasian di mana (1) Koperasi menjadi jelas kegiatan usahanya, karena focus pada core business yang umumnya adalah single purpose multi komoditi ; (2) adanya keterikatan yang erat antara usaha anggota dengan Koperasi ; (3) kriteria keanggotaan jelas. Koperasi tipe ini sangat menuntut berperannya para wirakoperasi (wirakop), dan tentu saja diperlukan sedikit/bahkan tidak sama sekali peran para manajer (rutin). Wirakoperasi dan manajer (rutin) sangat berbeda perannya, terutama pandangannya terhadap orientasi startegik. Pertama, wirakoperasi sangat concern terhadap persepsi peluang, sedangkan manajer (rupin) bekerja berdasarkan sumber daya yang ada. Kedua, pada faktor pendorongnya (push factor) , dalam hal ini adalah (1) penciptaan nilai tambah ; (2) meningkatkan kesejahteraan anggota, dan (3) persaingan. Sedangkan, factor pendorong para manajer (rutin) adalah (1) kesesuaian dengan sasaran dan target ; (2) kesesuaian dengan perintah dan kontrak-kontrak. Ketiga dalam hal strategic tools, dimana seorang wirakoperasi bersandar pada kreativitas dan inovasi, sedangkan para manajer (rutin) bersandar pada perencanaan.
APA YANG PERLU DILAKUKAN ?
Pendekatan kewirausahaan adalah jawaban atas perlunya terhadap orientasi strategic. Pendekatan kewirausahaan (yang pada Koperasi disebut Kewirakoperasian) untuk menemukan kembali jati diri Koperasi adalah perlu, sebab kondisi objektif saat ini, tantangan masa depan Koperasi tidak cukup dihadapi/dipecahkan hanya dengan pendekatan manajemen rutin yang pasif, melainkan keharusan menerapkan pendekatan kewirakoperasian di dalam proses manajmen Koperasi.
Untuk itu sejumlah ungkapan berikut diusulkan sebagai bentuk sumbang saran pemikiran dalam membangun Koperasi atas dasar pendekatan kewirausahaan itu
1. Tumbuhkan Kualitas dan Inovasi
Proses kewirausahaan selalu ditandai dengan tumbuh suburnya inovasi. Inovasi digerakkan oleh kondisi pribadi (pendidikan, pengalaman, nilai, locus of control, sikap pada resiko) dan lingkungan (peluang, panutan, dan kreativitas). Di Koperasi, dapat dikatakan inovasi itu tidak ditumbuhkan. Dampaknya apa ? Banyak hal menjadi rutin, semua orang (karyawan , pengurus, pengawas, dan juga pembina) mengerjakan suatu secara rutin, tanpa dinamika. Unit-unit bisnis tanpa inovasi, akhirnya mandek, bahkan sebenarnya banyak unit usaha atau Koperasi yang terus menurun volume bisnisnya dan semestinya harus segera ditutup. Jadi inovasi perlu ditumbuhkan.
2. Karyawan vs Intrapreneur
Intrapreneur adalah sebutan bagi para entrepreneur yang bekerja untuk institusi (Koperasi). Maka Intrapreneur hakekatnya sama dengan entrepreneur bedanya bila entrepreneur bekerja dan hasilnya untuk mereka sendiri, sedangkan intrapreneur bekerja dan hasilnya digunakan untuk kemajuan lembaga/institusi di mana mereka bekerja. Karyawan (manajer) yang Intrapreneur, mestilah ditumbuhkan di Koperasi. Artinya diperlukan karyawan yang tidak hanya mampu melaksanakan tugas/pekerjaan, tetapi lebih dari itu diperlukan karyawan yang mampu menciptakan kreativitas-inovasi dalam melaksanakan tugas/kewajiban. Semua karyawan adalah penemu ide, penjual dan pembeli pelayanan. Gagasan promosi dan menjual/mempromosikan Koperasi, juga harus tumbuh dari karyawan intrapreneur. Jadi karyawan Intrapreneur bukanlah karyawan biasa, yang bekerja secara rutin.
3. Dari Cost Center ke Revenue
Semua organ di dalam tubuh organisasi Koperasi memerlukan biaya (cost), tetapi biaya itu harus memberikan kepastian pelayanan yang baik, sehingga memberikan kepastian penerimaan (revenue). Di Koperasi saat ini begitu banyak unit sebagai sumber biaya dan sebaliknya sedikit unit yang mampu menghasilkan (unit revenue). Ketimpangan ini semestinya segera dievaluasi dengan menggunakan Strategi Income-Cost Unit (SICU/SBU).
4. Dari Simpanan ke Saham
Bukti tanda pemilikan pada perusahaan Koperasi sekarang ini tidak jelas, kecuali tanda menjadi anggota Koperasi, yaitu membayar simpanan pokok dan disahkan di dalam RAT. Akibatnya apa ? Anggota tahu sebagai anggota, tetapi tidak rajin partisipasi keuangannya. Partisipasi dalam bentuk saham, sebagai pengganti simpanan (pokok dan lainnya) perlu diusahakan. Saham merupakan tanda bukti memiliki perusahaan yang menerbitkannya, yang perlu dijaga adakah saham minimal (preferen) untuk mengawal kemungkinan terjelmanya praktek one share one vote.
5. Organisasi dan Manajemen
Struktur organisasi usaha wirausaha umumnya ramping/pipih dan menghindari struktur organisasi yang gemuk, tetapi rentan. Manajemen pada Koperasi baik pemula dan yang sedang tumbuh umumnya didominasi satu figur, sehingga terkesan one man show. Pendekatan manajemen kurang memperhatikan proses, atas dasar itu manajemen tidak diarahkan kepada pembagian fungsi usaha, seperti pemasaran, produksi, keuangan, sumber daya manusia (SDM). Berkaca pada disain organisasi dan manajemen wirausaha itu, maka ada sejumlah hal yang bermanfaat. Antara lain pentingnya Koperasi memiliki organisasi yang ramping, tetapi berdaya guna, dari pada organisasi gemuk, tetapi tumpang tindih dan kurang merangsang inovasi. Agar focus, maka kedudukan pengelola unit usaha diserahkan kepada Direksi, yang berlatar belakang wirausaha-profesional, sedangkan pengurus yang dipilih dalam Rapat
6. Integrasi Pemilik-Pengguna
Bukan rahasia lagi kalau anggota dan calon anggota Koperasi lebih memilih berinteraksi kepada bukan Koperasi. Kecenderungan ini adalah boom waktu bagi Koperasi, kalau tidak ada kesadaran dari anggota untuk mengurangi/mengerem dan meningkatkan partisipasinya pada Koperasi. Tetapi, apapun itu Koperasi harus memandang keadaan ini sebagai pemicu (trigger). Degan spesifikasi anggota Koperasi sebagai pemilik-pengguna (dual identity), maka Koperasi perlu untuk selalu mesra (dekat) dengan pemiliknya, yaitu anggota.
7. Disain dan Budaya Lembaga Koperasi
Untuk mencapai tujuan kualitatif Koperasi berupa meningkatkan kesejahteraan anggota, diperlukan : (1) desain kelembagaan Koperasi yang memungkinkan tumbuhnya wirakoperasi, (2) desain kelembagaan yang ada sekarang ini, apalagi yang mengalami kegagalan (bentuk top down multi unit) perlu dievaluasi, (3) diperlukan budaya lembaga Koperasi yang mendukung untuk melakukan perubahan orientasi strategic dan manajer (rutin) menjadi seorang wirakoperasi.
PENUTUP
Membangun Koperasi di era sekarang ini semakin banyak tantangannya, yang diperlukan adalah bagaimana siasat menjadikan tantangan itu menjadi peluang. Kuncinya perlu ada perubahan.
…… dari berbagai sumber
Pages
PENDEKATAN KEWIRAUSAHAAN KOPERASI
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)







0 komentar:
Poskan Komentar